Padang — Fenomena sungai yang tiba-tiba menyusut bahkan mengering pascabencana alam kerap memicu kecemasan warga. Air yang selama ini menjadi sumber kehidupan—untuk minum, bertani, hingga kebutuhan sehari-hari—mendadak hilang. Menjawab kegelisahan tersebut, pakar dari Universitas Andalas (Unand) memaparkan penjelasan ilmiah di balik perubahan drastis kondisi sungai setelah bencana.
Menurut para ahli hidrologi Unand, mengeringnya sungai pascabanjir, longsor, atau gempa bukanlah peristiwa tunggal, melainkan hasil dari rangkaian proses alam yang saling berkaitan. Pemahaman ini penting, tidak hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga untuk melindungi keselamatan publik dan menyiapkan langkah pemulihan yang tepat.
Perubahan Alur dan Sumbatan Alami
Salah satu penyebab utama sungai mengering adalah perubahan alur sungai akibat material bencana. Longsor dan banjir bandang membawa batu besar, kayu, dan sedimen dalam jumlah masif. Material ini dapat menyumbat aliran air di hulu atau mengalihkan aliran ke jalur baru yang tidak terlihat dari permukaan.
“Airnya tidak hilang, tetapi berpindah,” jelas pakar Unand. Dalam banyak kasus, air mengalir di bawah timbunan material atau mencari jalur lain, sehingga bagian sungai yang biasa dilewati warga tampak kering.
Sedimentasi dan Pendangkalan
Bencana juga mempercepat sedimentasi. Lumpur dan pasir yang terbawa arus mengisi dasar sungai, membuat daya tampung aliran berkurang. Ketika hujan reda, aliran air menjadi sangat tipis atau terputus di beberapa titik.
Pendangkalan ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko banjir susulan saat hujan berikutnya datang—sebuah ancaman keselamatan publik yang perlu diantisipasi.
Gangguan Sistem Air Tanah
Selain aliran permukaan, pakar Unand menyoroti peran air tanah. Gempa bumi atau pergeseran tanah dapat merusak lapisan akuifer, menyebabkan air meresap lebih dalam atau keluar melalui retakan baru. Akibatnya, mata air yang selama ini menyuplai sungai melemah atau berhenti sementara.
Fenomena ini sering bersifat sementara, namun pemulihannya bergantung pada kondisi geologi dan curah hujan berikutnya.
Dampak Lingkungan yang Lebih Luas
Mengeringnya sungai pascabencana membawa dampak sosial dan kemanusiaan yang nyata. Warga kehilangan sumber air bersih, ekosistem sungai terganggu, dan aktivitas pertanian terhenti. Dalam jangka panjang, jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memicu konflik penggunaan air dan tekanan ekonomi di tingkat lokal.
Karena itu, pakar Unand menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam penanganan pascabencana, bukan sekadar solusi darurat.
Langkah Pemulihan dan Pencegahan
Untuk memulihkan kondisi sungai, diperlukan kombinasi langkah teknis dan kebijakan:
-
Pemetaan ulang alur sungai pascabencana
-
Pembersihan sedimen dan sumbatan secara terukur
-
Rehabilitasi daerah hulu melalui reboisasi
-
Pengawasan tata ruang agar aktivitas manusia tidak memperparah kerusakan
Pendekatan ini tidak hanya memulihkan aliran air, tetapi juga melindungi masyarakat dari risiko bencana lanjutan.
Sains untuk Keselamatan dan Kemanusiaan
Penjelasan pakar Unand menegaskan bahwa fenomena sungai mengering bukanlah misteri, melainkan proses alam yang bisa dipahami dan dikelola. Dengan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan, negara dan daerah dapat hadir lebih sigap—menjaga keselamatan publik, melindungi hak warga atas air, dan memulihkan kehidupan pascabencana.
Bagi warga yang terdampak, pemahaman ini memberi satu hal penting: harapan. Bahwa sungai bisa kembali mengalir, dan kehidupan perlahan dapat dipulihkan, jika alam diperlakukan dengan bijak dan manusia bersiap dengan pengetahuan.

