Agam — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Agam menyebabkan belasan rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 50 hingga 80 sentimeter. Genangan terjadi setelah intensitas hujan tinggi membuat saluran drainase dan aliran sungai tak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke kawasan permukiman.
Meski air merendam ruang-ruang rumah, warga berupaya tetap tenang. Sebagian menyelamatkan barang berharga ke tempat lebih tinggi, sementara yang lain membantu tetangga yang membutuhkan.
Air Naik Cepat, Aktivitas Terganggu
Banjir datang relatif cepat, terutama di titik-titik rendah. Jalan lingkungan tergenang, aktivitas warga tersendat, dan akses menuju beberapa rumah menjadi sulit dilalui. Aparat setempat bersama relawan melakukan pemantauan, memastikan tidak ada warga yang terjebak dan membantu evakuasi ringan bila diperlukan.
Hingga laporan ini disusun, tidak dilaporkan korban jiwa. Namun, kerugian material dan dampak psikologis warga menjadi perhatian utama.
Keamanan Publik dan Respons Awal
Pemerintah daerah mengimbau warga menjauhi arus deras, mematikan listrik sementara di rumah yang tergenang, serta mengawasi anak-anak dan lansia. Petugas kebencanaan menyiagakan peralatan dasar dan membuka jalur komunikasi cepat untuk laporan darurat.
Pemantauan cuaca terus dilakukan mengingat potensi hujan susulan masih ada. Warga diminta mengikuti informasi resmi dan arahan petugas di lapangan.
Human Interest: Bertahan dengan Saling Menjaga
Di balik genangan, tampak solidaritas. Tetangga saling meminjamkan perahu kecil, mengangkat perabot, dan berbagi makanan hangat. Bagi sebagian keluarga, banjir bukan hal baru—namun setiap kejadian tetap menguji kesabaran dan ketahanan.
“Yang penting semua selamat,” ujar seorang warga sambil membersihkan lumpur dari teras rumahnya. Kalimat sederhana itu merangkum prioritas utama di tengah situasi sulit.
Antisipasi dan Pencegahan
Pemerintah daerah menekankan pentingnya pembersihan drainase, normalisasi aliran air, dan kesiapsiagaan lingkungan. Warga juga diimbau tidak membuang sampah ke saluran air serta menyiapkan tas siaga berisi kebutuhan darurat saat hujan ekstrem.
Penutup
Banjir setinggi 50–80 cm yang merendam belasan rumah di Kabupaten Agam menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem menuntut kewaspadaan bersama. Dengan respons cepat, informasi yang jelas, dan gotong royong, risiko dapat ditekan dan keselamatan warga terjaga.

